Tetap menjadi manusia, bukan kucing..

Beberapa hari terjaga tiap malam (karena batuk) membuat aq memperhatikan lingkungan sekitarku ternyata di malam hari para tikus berpesta pora mengacak-acak sampah dan berkejaran kesana kemari, heran.. ada juga beberapa ekor kucing yang melenggang tapi seolah-olah tidak melihat para tikus-tikus itu berkejaran danberlomba-lomba mengacak-acak sampah-sampah dan membawa lari beberapa sisa makanan dari dapur-dapur para tetangga disini, malah si kucing ternyata lebih memilih untuk menunggu giliran meski kadang berusaha menyerobot untuk memilih-milih sisa-sisa makanan juga dari tempat sampah yang sama, lucunya mereka kadang-kadang berkelahi satu sama lainnya untuk berebut hal yang sama ehhehehe.., setelah aq amati lebih lanjut dan seksama dalam kurun waktu yang cukup lama, ternyata tempat sampah di rumahku yang lokasinya didekat kolam di sekitaran teras rumah lebih menarik perhatian para tikus-tikus itu. Setelah aq perhatikan dan amati, ternyata para tikus itu keluar masuk dari lubang yang tersalurkan langsung ke got/parit/selokan yang mana fungsi awal pembuatannya adalah untuk menjaga keseimbangan dan kestabilan jumlah air di dalam kolam itu, jadi isi air kolam tidak akan bisa melebihi batasnya alias tidak akan meluber.. (kembali ke kucing) setelah aq perhatikan ternyata para kucing itu bukannya tidak tahu kalo itu tikus, mereka tahu dengan jelas bahwa itu tikus, nah.. isu globalnya, Tikus adalah Makanan Kucing, atau minimal Tikus itu takutlah sama yang namanya K-U-C-I-N-G , nah ini engga.., kucingnya yang takut..tanyakenapa?
ingin tahu alasannya ?

Aqpunya teori,si kucing memiliki insting khusus pada dirinya, bahwa tikus2 itu berbahaya bagi dirinya dengan alasan bahwa si tikus ini mengandung/membawa bakteri/virus/kuman yang bernama leptospirosis (bener ga nulisnya? -CMIIW).Nah alhasil para kucing-kucing ini menjadi segan, takut bahkan jijik untuk memakan tikus-tikusini, yaa..selain resiko terkena leptospirosis ini, kan insting bertahan hidupnya lebih kuat dalam mengatasi sedikit rasa lapar dan naluri kebinatangannya / kodratnya sebagai kucing. Pada dasarnya aq memperhatikan dan mengamati mereka hanya untuk mengambil pelajaran, nah sekarang apa yang saya petik dari pelajaran si kucing ? yang bisa saya implementasikan untuk kehidupan sehari-hari saya tentunya.

Dengan tidak berusaha sedikitpun menyama-nyamakan / mem-personifikasikan, aq mendapatkan pencerahan bahwa tikus-tikus ini sebagai gambaran dari pejabat/penyandang gelar kekuasaan di negara kita Indonesia Raya tercinta dan Tanah air beta ini.. (halaah..). Lingkungan malam dikampungku menjadi kondisi pemikiran masyarakatnya, yakni meskipun jelas-jelas terang benderang dengan beberapa lampu-lampu jalanan yang saya gambarkan sebagai semangat / gerakan-gerakan pertentangan, tapi tetap saja ada yang namanya korupsi dan kolusi yang mengacak-acak sisa-sisa dari sumber daya (pajaknya yang menjadi APBN/APBD) masyarakat. Lalu dimana peran si kucing-kucig tadi? yah bisa anda tebak juga.. sebagai penegak hukum.. dimana meskipun dia memiliki cakar dan taring yang bisa merobek-robek para tikus itu, tapi ternyata tidak digunakan sebagai mana fungsi dan tugas(kodrat)nya, kucing-kucing itu cuma paling banter cuma bisa mengeram dan mengancam saja tanpa berbuat apa-apa,bahkan malah ikut menikmati pula.. nah kebetulan pula, posisi saya sebagai pengamat disini (manusia) tetap bertahan dan mempertahankan diri untuk tidak ikut mengacak-acak tempat sampah itu pula.. nah sebelum ditanya kenapa saya membiarkan kucing-kucing dan tikus itu mengacak-acak sampahnya ? kenapa saya tidak berbuat apa-apa ? alasan sederhana ,mereka akan kembali lagi setelah bersembunyi di dalam lubang dekat kolam saya itu, lalu saya juga bisa dan beresiko tertular bakteri leptospirosis yang berbahaya itu, saya bisa tersakiti dan bisa mati (masih mending kalo saya sendiri, kalo keluarga saya juga ikut tertular gimana? ),selain itu saya jijik dengan tikus, dan meskipun saya suka dengan kucing tapi saya tidak akan mau menjadi kucing. Nah seruan saya(halah..),tetaplah menjadi manusia..berpikir dan ber-akal sehat.. bersatu kita teguh, bercerai kita sedih (kalo malam ga ada yang ngelonin).

*nyruputkopi, nyalakan rokok dan mengecek ulang kata-kata yang kurang benar..*

Advertisements

One thought on “Tetap menjadi manusia, bukan kucing..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s