Saya Cakep.. (cah keplek)

Sambil mendengarkan musik gamelan yang ditabuh di ruangan seberang, aq melihat kelangit.. cerah juga malam ini.., di depanku Jalan raya tampak ramai lalu-lalang kendaraan, diseberang sana penjual nasi goreng tampak sibuk meladeni pesanan dari pelangan-pelanggannya.. tambah ramai.. Disebelahnya pedagang Soto Lamongan juga tampaknya menuai hasil yang sama.. laris.. Macam-macam dagangan dan Jasa memang disajikan di komplek kios seberang jalan, ada counter Hape, Pedagang buah, Kios Helm, Penjahit, dan Tukang Sunat.. (loh.. kok ?) tapi nyatanya ada tuh.. 😮

Beberapa saat aq hanya diam dan asyik mengamati sekitarku, kafe pinggir jalan ini cukup nyaman juga.. di dinding sebelahku aq melihat bentangan spanduk putih yang penuh coretan tanda tangan, dan ada beberapa pernyataan positif yang tampaknya mereka dukung dan setujui, kemudian perhatianku teralihkan..

“tadi dia abis nangis pak..” kata seorang bapak yang duduk disebelahku kemudian dilanjut meneguk kopinya..
“Lho.. kenapa ? ” , sahut seorang bapak yang duduk disebelah bapak itu, aq mencoba ikut menyimak, menunggu jawaban dari pertanyaan pak pi’i yang tadinya hendak kutanyakan juga.
sambil kemudian menghela napas, “tadi di sekolahnya ada ribut-ribut, dia dapat kabar kalo bakal ga naik kelas..”

sejenak kami semua menoleh dan melihat seorang penari muda yang sedang menarikan sebuah tari garap baru, dia memandu dan bapak-bapak pengrawit untuk mengiringinya menarikan sebuah tarian, tari sing lijo. Namanya Novi, sekarang dia kelas 1 SMA, di sekolah yang sama dulu tempat aq belajar.

Dengan sedikit gusar dan rasa penasaran, aq bertanya.. “lho.. kok bisa gitu ?”
setahuku novi bukan tipe-tipe yang bakal masuk nominasi ga naik kelas, prestasinya bagus baik di tingkat daerahdan propinsi Jawa Timur, bahkan sepengetahuanku cuma dia penari remaja yang sejak SMP sudah terbiasa mengajar anak-anak SD dan TK untuk menari, tapi kenapa sekarang di kelas satu SMA dia bisa terancam dan masuk ke nominasi tidak naik kelas pikirku.

“Tadi pagi, dia ikut Dance Competition” cerita bapak itu tadi menjelaskan kronologinya, dia bapaknya Novi. “novi dapat juara dua, lalu ada sms masuk dari seorang temannya yang minta dia segera ke skul, kata temennya sekolah heboh karena dia masuk nominasi ga naik kelas.. wali kelasnya juga tadi waktu ketemu dengan saya dan ibuknya (ibunya novi .red) cerita, kalau prestasi novi di bidang olahraga dianggap kurang.. padahal bapak-ibu guru yang lain menentang kalo novi sampai tidak naik kelas” lalu terdiam..

“loh.. bukannya olahraga itu sekedar suplemen aja, bukan suatu mata pelajaran yang bisa bikin seorang siswa ga naik kelas pak? ” setahuku, memang pendidikan jasmani bukanlah sesuatu yang harus mendapatkan nilai 10 (nilai saya 9 dan itu tidak bisa menolong saya untuk tidak naik kelas karena nilai PPKN saya 4.. tapi itu bukan berarti saya ga mau di-didik sebagai warga negara yang baik, tapi cuma karena saya males aja masuk untuk ikut pelajarannya.. untung namanya sudah diganti, kalo masih PMP -Pendidikan Moral Pancasila- berarti saya ga bermoral dong.. :-p ), lalu mengapa novi bisa mungkin ga naik kelas karena mata pelajaran itu?

“SMU xxx (edited) memang gitu.. mereka ga pernah memfasilitasi kreatifitas siswanya” jawab pak pi’i , beliau kepala seksi budaya pada sebuah instansi yang menaungi sekolah-sekolah.

Aq jadi mahfum.. ternyata sekolahku jadi berubah seperti itu.. pede aja..

semenjak kelulusan angkatanku, memang prestasi extra-kurikuler di sekolahku jadi menurun drastis, pembibitan yang dan peng-kaderan calon penerus kami, ternyata benar-benar digagalkan oleh kubu para guru.. sejenak aq mengenang masa-masa sekolah dulu.. seorang residivis murid yang ga naik kelas menjadi salah satu pemegang tampuk kekuasaan kubu siswa, beberapa demo menentang kebijaksanaan sekolah yang membatasi kreatifitas siswa-siswanya dilakukan dengan sangat baik, terkondisi dan damai.. (demo kok damai sih..? ehhehehe.. lha kita demonya pamer piala kejuaraan..). Daripada bertengkar eh berdebat bertukar pikiran dengan kubu para guru, lebih baik kami berprestasi dulu dan baru menuntut hak.. waktu itu saya sebagai bendahara OSIS, audit dana OSIS dari pembina bendahara OSIS sering membuat saya merogoh kocek pribadi untuk menambal sulam kekurangannya (tapi sebenernya sudah teratasi dari duit keuntungan hasil pembuatan dan jualan jaket OSIS.. Ehhehehe :-p ), lalu duitnya waktu itu kami gunakan sepenuhnya untuk kemaslahatan bersama, mengecat lapangan, membetulkan papan ring basket dan juga ring basketnya, kasi honor si-hitam (temen saya) untuk ngecat lapangan. Untuk keperluan pribadi, tidak ada sepeserpun saya menyentuh duit OSIS, keperluan bersama seperti untuk lembur ngecat lapangan, ruang OSIS.. baru saya pake.. (beli konsumsi.., belikan temen-temen rokok juga).

Namun ternyata keindahan itu hilang setelah angkatan kami lulus, semua siswa ditekan habis-habisan untuk mendapatkan nilai akademis yang bagus, yang dapat nilai jelek dihina-hina.. cuih.. padahal menurut saya, proses belajar-mengajar di SMA dulu sangat lambat, jadi saya memutuskan untuk sering memanfaatkan waktu belajar di-luar.. diluar sekolah waktu jam pelajaran..

kembali ke novi..
Pagi ini raportnya dibagikan, semalam ga bisa tidur, meskipun dia bukan apa-apaku, tapi entah kenapa naluri kakak dalam diriku sedikit bekerja, aq berusaha mencari informasi tentang solusi dari masalah semalam, ternyata sang guru olahraga memutuskan memberi ujian ulang pada novi. Sedikit ga adil juga pikirku, kalo tau novi kurang aktif di olahraga, bisa dikira-kira hasilnya, tapi aq yakin akan ada keajaiban dai Tuhan yang semalam sudah aq sms.. :-p tapi DIA diminta traktir mie ayam untuk besok sabtu.. hiks.. ga ada duit..

– resume –

Lalu sampai kapan para penggede-penggede itu sadar kalo kreatifitas manusia itu juga penting ? orang yang di-cap gagal oleh dunia pendidikan aja sekarang malah jadi orang terkaya di bumi.. Oom Bill tuh buktinya.. Kan ga semua harus di-adu di akademisnya aja, otak bisa ga berimbang, mati rasa.. tujuan extra-kurikuler kan untuk itu.. memberikan rasa pada akademis, rasa persaingan yang sehat, rasa kesadaran dan disiplin, rasa saling berkerja-sama, rasa saling percaya, rasa coklat, rasa strawberry.. dan rasa mocca.. hmm.. saya suka rasa sayange ajah..

Para penggede-penggede itu apa ga berfikir, otak manusia ada dua bagian ? kanan dan kiri.. yang fungsinya untuk…. ehhmm… untuk…

ah iya…. untuk bedain mana kanan dan mana kiri.. (yakin banget..) pede aja..

kalau cuma satu sisi saja otak yang diasah, maka akan timpang, bayangken kalo ada orang jalan hanya dengan kaki kanan saja.. ato kiri saja.. nah.. ga teralu keren kan ? yang keren kalo mereka bisa berlenggang kesana-kemari seperti para peragawati yang berjalan di atas kucing jalan.. (catwalk).

hhh… sayah bingung nulisnya.. kok jadi kacau gini akhirnya ? weleh… setelah saya baca ulang.. saya sadar satu hal.. saya cakep.. 😀

Advertisements

2 thoughts on “Saya Cakep.. (cah keplek)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s