Hakiki-nya seorang Insan..i

syahdan… alkisah di sebuah negeri dongeng yang dikenal dengan orang sebagai negeri jamput jamruD khatulistiwa.. Hakiki, seorang pemuda keren, macho, tampan dengan hidung mancung, kulit sawo pucat, bola matanya ijo coklat cerah, wajah indo-jerman dan sangat tidak menyukai pertikaian (heh !? abis jelasin fisik kok..?) tengah berjalan-jalan disebuah mall terkenal di ibu-kota negeri jamrud khatulistiwa itu tadi..

lalu setelah puas jalan-jalan di mall dan tanpa bingung dan kesasar ato capek-capek dengan efisiensi perempuan yang bener-bener sangat aneh, Hakiki segera jalan keluar dari mall menuju parkiran dan mengambil motornya untuk pulang.. ke kontrakan-nya.

“wah.. ada apa nih.. ?” pikirnya, “kok rame banget orang bersepeda ?? ada polisi juga..”

Hakiki berfikir kalo mungkin ada operasi surat-surat kendaraan bermotor, ato ada demo yang mana jelas bukan demo memasak karena bapak-bapak dan nona-nona (yang tentu jadi perhatiannya) polisi tampak sedang mengatur arah para pengendara motor yang menyesaki jalan. Hakiki merasa sedikit bingung awalnya.. namun setelah mendengarkan orasi dari seorang yang memakai baju hijau ato mugnkin lebih tepat disebut sebagai jubah dan berdiri dengan membawa megaphone menyuarakan teriakan-teriakan dan pekikan-pekikan bernuansa padang pasir itu, Hakiki merasa gerah juga.. Hakiki melihat bahwa tidak semestinya mereka meneriakkan pekikan-pekikan pujian pada Tuhannya dengan situasi kepala yang ga dingin.. kalopun hati panas, semestinya bisa sedikit menjadi dingin dan tenang dengan menyebut pujian kata-kata yang bahasanya identik dengan padang pasir itu.. awalnya Hakiki bingung mesti bagaimana.. bukan bingung ingin ikut ato engga.. namun bingung mesti lewat manaa.. para pendemo itu menutup jalan utama dan bikin kemacetan yang di tengah cuaca panas seperti ini bisa mempercepat naiknya emosi ke bun-ubun kepala setiap orang..

Hakiki memilih diam, suara nyalinya beringsut saat melihat kilatan cahaya yang terlihat sekilas terselip di balik jubah beberapa pendemo lainnya.. ia yakin sekali jika kilatan itu bukan berasal dari kaca atau cermin yang diselipkan kedalam jubah.. namun jika itu memang kaca.. emang para pendemo itu mo bener-bener demo merias ??.. ia meragukan pikirannya soal merias.. ia yakin kalo para pendemo yang berteriak-teriak di siang bolong itu membawa senjata.. terutama yang laki-laki.. mereka pasti punya senjata.. baik itu tumpul maupun tajam.. hehe..

“aduh Hak.. kamu sempet-sempetnya mikir kayak gitu” katanya pada dirinya sendiri.

Lalu setelah sedikit berpikir tentang nona-nona polisi yang manis dan cantik-cantik, uhhmm dan mirip seperti yua miyuki dan yua natsumi di you’re under arrest itu *thx to Mr.geddoe to show the wiki.. and.. *, Hakiki segera melajukan motornya dan merambat di tepi jalan di sebelah jalur khusus sebuah bus kota milik pemerintah.. yah.. ia ingin segera pulang dan ga ingin tetap ada di deket-deket pendemo itu, ia hanya merasa bahwa ia sebaiknya menjauh dari sana sebelum semakin macet dan massa demo demakin banyak berkumpul.. akan terlalu riskan.

Tapi yah.. apa mau dikata.. manusia berkeinginan namun Tuhan jugalah yang menentukan sudah menuliskan rencanaNya entah sejak kapan (bahkan mungkin sebelum ada ‘waktu’) dan Hakiki ga pernah tau apa rencanaNya pada dirinya.. pas Hakiki sedang berjalan pelan-pelan dan mepet-mepet ke jalur khusus bus kota milik ibukota suatu negeri dongeng yang dikenal sebagai jamrud khatulistiwa itu.. mendadak Hakiki kentut.. kekekeke.. (kecewa yeee.. terserah aq dong.. yang cerita kan aq).

Entah dari mana asalnya.. mendadak teriakan dan pekikan yang semestinya untuk meng-agung-agung-kan nama sang Tuhan semakin mengeras, massa pendemo menyambut pekikan itu bersama-sama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan suara yang tak menyiratkan sedikitpun rasa sayang saat menyebut sang Tuhan, Hakiki kaget.. Hakiki bengong.. Hakiki bingung.. Hakiki limbung.. Hakiki jatuh karena terkejut mendengar pekikan-pekikan yang dalam bayangannya adalah tanda-tanda keributan akan segera dimulai.. Motor Hakiki terguling di tengah-tengah jalur khusus bus kota milik ibukota suatu negeri dongeng yang dikenal sebagai jamrud khatulistiwa itu, Hakiki terguling dengan mengenaskan dan dengan posisi yang kurang keren (emang ada jatuh keren??)..Beberapa suara jeritan perempuan terdengar oleh Hakiki, segera saja semua menoleh melihatnya, Hakiki berusaha berdiri namun segera terjatuh lagi.. entah apa helm yang melindungi kepalanya kurang berfungsi maksimal atau benturannya terlalu keras, membuat Hakiki merasa pandangannya sedikit mengabur dan ga jelas.. beberapa orang dan beberapa suara segera mendekati Hakiki, lamat-lamat terdengar seseorang bertanya padanya..

“mas..mas.., mas gapapa ?” tanya suara yang menurut Hakiki jelas-jelas milik seorang bodoh yang baik hati.. bodohnya karena dia menanyakan keadaan Hakiki yang jelas-jelas ‘kenapa-kenapa’.. segera mereka membopong Hakiki minggir ke sebuah tempat yang sedikit agak tenang, dibawah naungan sebuah pohon, namun ia tetap dikerumuni banyak orang, bukan untuk digebukin.. tapi ditolong.

“sepeda saya..” kata Hakiki lemah, meski ia merasa sedikit lebih baik setelah dipinggirkan.. lalu ia melihat motornya ada tak jauh darinya dan sepertinya hanya beret-beret sedikit.

“mas namanya siapa ?” tanya seorang peserta demo yang tampaknya juga menjadi salah seorang pemimpin demo, suaranya lembut namun tegas dan jelas, dan ia juga menyuruh beberapa orang pendemo lainnya untuk mengambilkan air minum untuk diberikan pada Hakiki.

“Hakiki.. ” jawab hakiki singkat, ia lebih merasakan lemah dan gemetar pada tubuhnya..

“Kamu agamanya apa ?” lanjutnya seorang disebelahnya.

“….” Hakiki sedikit bengong untuk pertanyaan ini.. ia sedikit menatap dengan penuh bertanya dan meminta penjelasan pada yang menanyainya nama.. namun yang orang itu hanya menatapnya tanpa expresi.. namun ia menjawab juga, “islam pak..”.

“islamnya ikut A ato B ? ” tanya seorang lagi sambil menyerahkan segelas air minum pada Hakiki. (red: A ato B disamarkan meski semuanya pada tau apa aja A dan B itu, pokoknya dua ‘golongan’ besar deh di negeri)

“…..” Hakiki jadi tambah bengong.. sejenak Hakiki merlirik-lirik kiri dan kanan-nya, ia baru sadar jika disekelilingnya mayoritas adalah para pendemo itu.. ia terperangkap.. “apa-apaan ini !? ” pikir Hakiki.

“kamu islamnya apa !? ” suara seseorang dibelakang Hakiki sedikit menegaskan pertanyaan orang tadi..

“….uhh..ehhmm..” Hakiki bingung.. lalu dengan pelan.. ia menjawab.. “nggak tau mas…”

“Kok nggak tau.. ikut A ato B kamu.. ” tanya seorang lagi dengan sedikit nada yang menurut Hakiki terasa menekan..

lalu sekilas Hakiki melihat badge mereka dan dalam hati ia bersyukur.. “saya islam A pak..” jawabnya pasti..

“Mas Hakiki mendukung Gus-X ato ati Kyai-Y..?” tanya mereka lagi.

” Heh.. !? “, Hakiki bingung.. bingung sekali..

“Ayo jawab.. kamu ndukung siapa !? ” tanya seorang lagi yang kali ini tanpa ragu menghardiknya…

“saya ndak tau pak..” jawab Hakiki setengah mengiba..

“Heh.. jawab.. kamu harus memilih, kamu ndukung siapa !! ” hardik seseorang lagi.
“Ayo jawab..!!” hardik seorang lagi di belakangnya..

“ndak tau mas.. saya ndak tau pak.. ” jawab Hakiki bingung..

“Kamu harusnya tau !! ” teriak seorang lagi, kali ini ia bertanya dengan mengguncang-guncang tubuhnya.. lau mereka semua mulai mengguncang tubuhnya, satu-satu tangan mereka mengguncang-guncang tubuh Hakiki.

“ndak tau mas.. ampuun.. saya ndak tau pak.. ampun.. saya ndak tau.. jangan.. saya ndak tau.. ” Hakiki merasa takut sekali, apalagi dimatanya, mereka semua perlahan nampak semakin bengis.. Hakiki menutup matanya rapat-rapat dan menggelungkan tubuhnya rapat-rapat.. lalu semuanya gelap dan hilang tanpa ada segala sesuatu disekitarnya.. hanya ada gelap.. ia ga lagi tau ada dimana..

“mas.. mas..” samar-samar terdengar suara yang ia kenal.. “mas Hakiki…mas..”

perlahan kesadarannya kembali.. Hakiki tidak melihat orang-orang itu lagi, semuanya pergi saat Hakiki membuka matanya.. yang pertama ia lihat adalah sosok yang dalam remang-remang tampak bercahaya.. perlahan namun pasti ia melihat seulas senyum di sosok wajah itu..

“insan.. ?” sejenak saja tanpa ia sadar, ia mendengar dari mulutnya sendiri menyebut nama sosok itu.

“iya mas, ini insan yang manis.., mas Hakiki mimpi buruk yah ?” tanya insani istrinya..

Hakiki tersenyum mendengar perkataan lembut istrinya.. “cuma mimpi tentang masa muda dulu sayang, waktu pertama kita akhirnya berkenalan dulu..”

“ooh. waktu ada demo itu dulu.. trus mas hakiki jatuh karena meleng karena liat insani bertugas ngamankan demo itu ya ?” insani meng-ooh dan manggut-manggut lalu dengan tangan kanannya ia menutup mulutnya dengan manis dan tertawa kecil.. matanya yang cerah menambah manis insani saat ia tertawa kecil seperti itu..

Hakiki segera terlupa akan mimpi buruknya, istrinya yang mungil ini memang selalu memiliki attitude untuk membuatnya semakin menyayanginya.. lalu tanpa disadari insani, Hakiki sudah memeluknya mesra dan mencium mesra istrinya.. insani dengan gaya-nya yang mungil memukul-mukul kecil dada suaminya yang dari awal perkenalan ‘unik’nya di peristiwa demo selalu membuatnya tertawa.. entah kenapa insani mau menikahinya 5 tahun lalu, mungkin karena laki-laki itu unik, ia melamar insani sesaat setelah ia diselamatkan dari pendemo-pendemo yang hampir saja meng-aniayanya.

“perkenalkan.. saya korban dari ketidak-adilan agama dan ideologi, nama saya Hakiki, mahasiswa yang nunggu wisuda dengan IP 3,67 , hobi membaca-menulis dan jomblo tulen bercita-cita mencari pendamping hidup seperti mbak lalu meneruskan dan memperbesar usaha lembaga bantuan belajar saya” sambil menyodorkan tangan pada insani 6 tahun lalu..

“insani, polwan.. ” jawab insani sambil menjabat tangan Hakiki dan tersenyum manis pada pemuda yang memiliki nama Hakiki itu.

“uhmm.. lalu ?” tanya Hakiki lagi sambil mengisyaratkan bahwa ada satu pertanyaan tersirat dalam perkenalannya yang belum dijawab oleh insani

“.. jomblo..” jawab insani sambil menahan tawanya agar tak terlepas di suasana yang ga memungkinkan sesuatu hal bisa menjadi lucu.

“kalo gitu, boleh saya menjadi suami insani ? ” tanya Hakiki dengan lugu..

“…..” insani terdiam lalu tergelak tak tertahankan lagi dan segera mengajak Hakiki untuk pergi dari tempat yang tidak kondusif itu untuk diamankan. Dalam hati insani merasa bahwa pemuda bodoh ini adalah ‘sesuatu’ tapi entah ia tak bisa menjelaskan apa sesuatu itu, ia hanya merasakan sesuatu yang familier atau mungkin hanya efek menyenangkan saja dari situasi tak menyenangkan yang sedang dialaminya.

“lalu jawaban-nya ?” tanya Hakiki lagi yang berbaring di dalam ambulance sewaktu ia dibawa ke RS karena kakinya tak dapat digerakkan sama sekali. Insani sedikit terkejut juga, ia pikir pemuda semacam Hakiki hanya seseorang yang suka bercanda dan tidak serius dengan kata-katanya.

“jawabannya ya.. apa kata nanti-lah.. yang penting sekarang ke RS dulu aja..” jawab insani waktu itu dengan tersenyum, hatinya senang.. sebulan kemudian insani menjawab lamaran kedua Hakiki dengan menjadikannya pacar karena ia tak mau ceroboh dalam memilih pasangan hidupnya yang akan menemani sisa hidupnya kelak, lalu delapan bulan kemudian, insani menjawab lamaran Hakiki yang ke-tiga dengan mencium tangan Hakiki yang saat itu melamarnya sekali lagi disebuah toko buku..

“sayang.. kenapa ?” tanya Hakiki sesaat yang setelah melepaskan pagutan di bibir istrinya melihat insani masih terpejam matanya.. daster ditubuhya yang menurut Hakiki akan menambah keaslian dirinya sebagai sosok wanita jawa, kata-kata rayuan yang sering dikatakan Hakiki bahwa dirinya layaknya sebuah kotak perhiasan kayu jati berukir dari jepara.. terkesan sangat jawa. Sekarang daster itu sudah menggelung senang di bawah betis putihnya seperti seekor kucing yang menggelung manja pada pemiliknya, daster itu terjatuh dari tubuhnya atau mungkin lebih tepat jika dijatuhkan oleh Hakiki dari tubuhnya.. dan tubuh yang tadinya dibalut oleh daster itu kini juga sudah jatuh ke pelukan tubuh yang disemayami belahan jiwanya.

dan selanjutnya…….. (bersambung kapan-kapan kalo ga males….)

kok malah jadi cerita gini yah.. edan.. aq terhanyut sendiri.. bwakakakaka….

Advertisements

15 thoughts on “Hakiki-nya seorang Insan..i

  1. Ini cerita, pembukaan ala Amir Hamzah Pujangga Baru, pertengahan ala Pramoedya, eh, penutupan kok jadi Freddy S sih? :))
    Tapi keren, bos….
    Dan g usah disambung, biar pembaca nyambung dengan versi masing-masing… mo gaya konvensional, dogstyle, atau WOT. (Lho?)

  2. brilliant comment bang.. aq baru tahu malah..

    nie aq baru mencermati tulisanku sendiri dan terkekeh-kekeh tergelak (halah..)

    kesurupan apa yah tadi sore… thx u :p

  3. @ina
    grrraaaahhhh… !!
    *siapin ranjau darat buat ina* :p

    @tianzega
    thx u.. saya ga minum extrajoss.. heineken please.. :p

    @extremusmilitis
    haduh.. supernova.. that briliant novel is great writing..
    saya belum tau apa bisa nulis seperti itu.. hiks..

    btw.. ini hasil mengarang indah di warnet.. 😛 jadi daster saya belum pernah ‘dijatuhkan’ karena saya ga suka pake daster.. 😛

  4. Cerita yang mantapzx…jadi trenyuh juga seandainya ada kenyataan seperti itu (nanya2 agama dll ketika memberi pertolongan)
    BTW…

    kok malah jadi cerita gini yah.. edan.. aq terhanyut sendiri.. bwakakakaka….

    Oh karena terhanyut to…kirain disengaja. Maafkan saya karena telah suudzon terhadap akhi irdix :mrgreen:

  5. Setelah aku pikir sebelum kenalan dengan ente…Ente prnah cerita kayak gini juga nih…waduh ini kisah nyata ente ya bro..Selamat yach…tpi kok polwan bro..? bukannya itu tu…heheheheh

  6. Kalo gak salah lanjutan ceritanya diposting di ceritaseru.com yah? Eh apa 17tahun.com yah?!?
    Wekwekwek… =))
    Tapi terlepas dari semua itu, prologue-nya bercerita tentang ironi ya om? Ato bukan? Tapi terserah saya kan? Anda berhak menulis, dan saya berhak menafsirkan apa yg saya baca… Wekwekwek =P

  7. trenyuh…………:sad: 😦

    btw ini cerita sedih apa cerita panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnngggggggggggggg………………………….

    walah OOT & spam
    huehuehue……

    kabur lagi

    :lari:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s