Cinta yang Fantastis

Cinta itu seperti apa sih, om ?

pertanyaan itu meluncur dengan begitu saja seperti  air yang terjun dan meluncur jatuh dari atas bukit, dari bibir mungilnya, aku memperhatikan bibirnya yang kecil dan bergerak-gerak saat membentuk pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan pada perasaan yang sedang kurasakan saat ini, sebuah pertanyaan yang membuatku masuk kedalam blackhole dibatinku. Dia menuangkan teh dari teko keramik putihnya ke sebuah cangkir mungil, bibir cangkir itu pasti dicintainya, karena ia mencicip bibir cangkir itu dengan bibirnya, tampaknya bibirnya dan bibir cangkir itu berpagutan mesra.

“Cinta… itu seperti…” , kata-kataku tertahan, tercekat oleh kesadaran otakku yang memberikan signal bahwa aq masih memilikinya, pertimbangan-pertimbangan moral, akal, dan apalah itu yang dikata sebagai norma-norma. Pikiranku menahanku dengan sejuta alasan akal sehat, batinku diam menatapnya, sungguh sabar, meski pikiran selalu menyela pendapatnya, ide-idenya.

“Cinta itu… “ , kembali aq katakan padanya dengan nada mengisyaratkan padanya agar menunggu, menunggu agar pikiranku lelah menyela dan batinku berbicara. Aq menatap pikiran seperti matahari menatap gelombang air laut yang tak perhenti melompat-lompat menyela pantai, batin adalah garam, ia menjadi absurd, lumat dalam gelombang-gelombang pikiran yang tak sabar untuk dilihat selalu. Tahukah kau, keindahan laut bukan pada mataharinya, bukan pada gelombang air lautnya, bukan pada isi lautan yang dikandungnya, namun pada garam yang disembunyikan oleh laut.

“Cinta itu seperti saat kamu meletakkan tangan di dada dan merasakan detak jantungmu” ungkapku meluncur begitu saja.

“seperti itukah !? “ , tanyanya, dan lagi-lagi hanya dengan menatap bibirnya aq bisa mengerti perkataannya, suasana di cafe ini sedikit terlalu ramai, dan pikiranku masih melompat-lompat, berteriak-teriak pada matahari dan penjuru-penjuru pantai. Aq sekilas melihat sebuah kristal, dan kemudian aq memilihnya untuk aq nyatakan.

“aq pikir, bukankah itu semestinya lebih..lebih..” , bibirnya berhenti berucap, tetap sedikit merekah dan pandanganku teralihkan dengan dari bibirnya pada isyarat tangan yang ditunjukkan, dia membuat isyarat.. seperti bunga ? seperti bunga yang merekah ?. ” fantastis “ , lanjutnya menyambung kata-katanya.

“fantastis..” , kataku mengulang kata-katanya mengikuti gerak bibirnya yang sekarang terkatup, matanya menatap mataku meminta jawaban, mungkin garam memang tidak selalu bisa memuaskan seseorang, garam sekedar memiliki rasa asin saja, mungkin. Namum garam memberikan rasa jika ditakar pas, dan menjadi racun jika berlebihan.

Ya, seperti detak jantung, ia memompa darah ke seluruh penjuru tubuhku, kau tidak akan menyadari bahwa jantung itu sudah lama berdetak dan memompa dalam hidupmu, dan bukan lalu kau tau kalo jantung itu berdetak dari kata-kata para ahli medis yang secara kronologis akan menjelaskan bahwa ia sudah lama berdetak, kau tidak akan menyadari bahwa jantung itu menopang hidupmu jika kau tidak menyentuhnya.. bahkan aq sendiri baru menyentuh tembok luarnya, aku baru menyentuh dada, tempat dia menetap untuk tinggal. Mungkin kamu menolak bahwa dengan sejuta alasan pikiranmu yang penuh rasa malu, penuh argumen, penuh pertimbangan norma. Kau tahu ? jatuh cinta itu bukan sebuah kesalahan atau apapun yang disebut orang-orang dosa.

Cinta bukan seperti gelandangan yang harus kau usir karena memperburukmu, bukan seperti anjing galak yang harus dirantai oleh norma-norma. Ia bukan pula burung di angkasa yang terbang kesana-kemari, cinta hanyalah cinta, ia hidup, eksis dan belajar.

Ia juga seperti maling yang paling hebat, cinta datang dan hendak mencuri semuanya, namun maling yang datang padaku kali ini adalah sang kalijogo, sang sunan yang takjub pada buku-buku ajaran dan menghabiskan waktu berlama-lama membacanya. Duduk dan lupa akan tujuannya untuk mencuri.. ya, cinta itu hanya duduk dan belajar bersamaku, menempati sebuah batin yang penuh dengan belajar.

kata-kataku ini memang tak terucap saat itu, saat itu pikiranku mencipta lengan-lengan halus yang menyentuh batin dan menggenggamnya, bukan.. mereka mencengkeramnya dan mengikat batinku dengan norma-norma. Aq hanya menatap bibirnya dan terdiam.

Aku merasakan cinta, yang bukan karena keinginan memiliki, aq merasakan cinta itu sebuah proyeksi dari diriku,bukan proyeksi dari keinginan. Aq merasakan cinta yang membuat aq mengerti, membuat aq mengerti cinta itu hanya butuh cinta. Aq menatapnya dalam-dalam, sosok perempuan di depanku, sosok yang sempurna, memainkan rambutnya yang tergelintir menghiasnya, matanya bergerak-gerak sejenak lalu terdiam teralihkan saat mata kami beradu pandang. Tubuhnya tegang namun santai, sebuah perpaduan yang indah seperti puisi raja solomon di dalam sebuah kitab.

Kiranya ia mencium aku dengan kecupan
Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur

Tangan kirinya ada di bawah kepalaku,
Tangan kanannya memeluk aku.

Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu,
Seperti dua anak rusa buah dadamu,
Seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput
Di tengah-tengah bunga bakung.

Pusarmu seperti cawan yang bulat,
Yang tak kekurangan anggur campur.
Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.
Seperti dua anak rusa buah dadamu,
Seperti anak kembar kijang.

Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan
Buah dadamu gugusannya.
Aku ingin memanjat pohon korma itu dan
Memegang gugusan-gugusannya.
Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan
Nafas hidungmu seperti buah apel.

Sungguh, aku jatuh cinta dan aku bisa merasakan cinta karena dia.. dan cintaku tak memiliki keinginan, tanpa hendak menggenggamnya, memegangnya, atau memeluknya. Cinta ini tak kan pernah bisa patah.. karena ia luwes, lentur dan tak berbentuk selain berbentuk cinta. Kamu meragukannya ? itu hak-mu. Aq tak peduli.

Advertisements

19 thoughts on “Cinta yang Fantastis

  1. mungkin memang orang yang paling tepat menjawab “apa itu cinta” cuma orang-orang yang pernah merasakan cinta,
    terluka karena nya, dan berjuang melanjutkan hidup setelah nya, lalu menemukan orang baru sebagai pot “tanaman” cinta itu,

    dan kami yang belum merasakan nya..
    mungkin hanya bisa mengukir “o” di bibir, mengucap “sabar”, saat kau terluka, sekali saja mendoakan saat kau berjuang bangkit setelah nya, dan mengulurkan tangan menyelamati mu yang menemukan orang baru itu.. itu saja..

  2. Weleh…itu baru awal mengenal cinta….klo dah dalam mendalami cinta..kayak apa yach bahasanya..? bisa ngak diungkapkan dengan kata2…hehehehehe

  3. @ulan
    *jabat tangan ulan*
    wangi mbak… ciumin tangan ulan..

    @edi lontong (si entong? )
    ehhehehe.. imposible is nothing.. halah..

    @mbelgedez
    ehhehehe.. saya sendiri juga bingung mas.
    tapi ngga jatuh cinta ke Oom-Oom kok.

  4. @bee
    entah mas bee.. tp aq rasa waktu itu ada sedikit keinginan mengintip ke dalam hatinya. btw.. sembuh dari sakit jd tambah jeli, selamat..!!

    @ulan
    *hayah*
    aq dah lupa gmn rasanya, aq merasakan cukup.

  5. aq tak meragukan …

    “dan cintaku tak memiliki keinginan, tanpa hendak menggenggamnya, memegangnya, atau memeluknya. Cinta ini tak kan pernah bisa patah.. karena ia luwes, lentur dan tak berbentuk selain berbentuk cinta”

    Yang kuragukan adalah kemampuanmu dalam menemui cinta dalam bentuk murninya dengan segala keterbatasan manusia.. apalah yang kau anggap sebagai logika, norma, kewajiban dan hak, semuanya. Kalau kau bisa melakukannya, aq yakin sepenuhnya, cinta yang sedemikianlah yang sedang kau genggam dan bukannya ekses dari keinginan dasar manusia untuk dimengerti oleh pasangannya dengan cara saling merelakan ego masing-masing dilebur atas nama cinta.
    walah.. komentku koq jadi gini yaa:(

  6. masa siiih
    *dan maaf aq juga tak peduli juga tidak sedang berdalih*

    makanya pak… jangan kebanyakan menggunakan teknik tingkat tinggi gt.. yang ga ngerti malah nangkepnya laen

    kaya lagu… yang sedang2 aja..
    *dangduters* wkakakaakaaaa

  7. @ai’

    cinta itu… hmm..

    cinta itu.. lampu hias, warna-warni.

    @arul
    bukan mas, apresiasi tertinggi makhluk kepada sang khalik cuma satu.. takluk. Cinta kita ga berarti apa2 buat-Nya.. apalagi cinta jargon.

  8. ::kayaknya lalatnya ngga bisa mikir, kalau gitu perlu dimistik nich maksudnya apa…?…halah…biarin aja…siapa tahu vitamin…he..he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s