Met ultah cinta pertamaku..

Aku tak pernah bisa sekalipun melupakan atau lalai akan hari ini, bukan karena apapun selain hari ini adalah hari ulang tahun cinta pertamaku.


****************

Malam itu seorang lelaki gelisah tak kunjung reda, tangannya menggenggam kekasihnya yang sedang berjuang merasakan dan menghadapi maut, dalam pertarungannya kali ini, kematiannya pun akan dirayakan sebagai kemenangan. yah.. wanita di pembaringan itu sedang berjihad, dia mempertaruhkan hidupnya untuk kehidupan yang baru. Malam itu 25 tahun yang lalu.

Lelaki itu tampak tegar dan tabah, ia hanya bisa menggenggam tangan wanitanya tanpa bisa membantu selain berdo’a memohon pada sang Maha-Maha untuk bisa memindah rasa sakit yang dialami sosok tercintanya saat itu pada dirinya..

“Tuhan, pindahkan saja sakitnya padaku, setidaknya biarkan kami menanggung sakit itu bersama-sama, seperti janji setia kami untuk selalu menghadapi susah dan senang bersama, Tuhan, hanya kepadamu kami memohon pertolongan, hanya padamu kami meminta, aku meminta padamu Tuhanku, tolong yan Tuhanku..” batinnya pasrah.

Wanita itu mengerang tak terperi lagi, bukan sakit disayat yang terasa, namun dirobek dan hidup dengan sadar sepenuhnya. Bulir-bulir keringat tak lagi menetes namun mengucur dengan deras seperti darah yang mancur dari leher hewan tergorok yang tak bisa bergerak diikat. Seluruh tubuhnya hanya menegang, sakit yang terasa sudah tak bisa dirasakannya lagi sedikitpun, yang ia tahu ia harus berjuang dan bertahan.

Tepat pukul 12 malam, lonceng berbunyi, semua wajah disekitar masih juga tegang, hanya sedikit menoleh dan sadar bahwa hari ini tepat masuk ke hari jum’at, wajah mereka masih tegang. Tak ada semenit kemudian jejeritan terdengar dengan lantang menembus lorong-lorong ruang dan waktu, dibalik dunia yang nyata, malaikat-malaikat bertasbih dengan syahdu, mereka hanya bergeser sedikit mendekat ke sisi kanan dan kirinya, membuka sebuah buku di masing-masing pangkuan tangannya lalu kemudian kembali berdzikir dengan takzim tanpa berkurang sedikitpun. Sebelumnya Gabriel datang dengan kecepatan laksana waktu itu sendiri, senyum pada sosoknya yang gagah akan membuat semua jiwa tenang, ke duabelas sayap-sayapnya yang besar dan angkuh merengkuh semua jiwa kehidupan baru dan menuliskan seperti yang difirmankan-Nya untuk setiap jiwa yang turun ke dunia, kemudian ia mencium dahi jiwa-jiwa yang diturunkannya dan menyatulah jiwa dengan raga seketika itu juga, sampai nanti sang Maut melepaskannya lagi, dan dalam sejenak itu pula Gabriel mengepakkan sayap-sayapnya dan mengangkat dirinya, ia tak sekalipun memunggungi jiwa-jiwa itu, ia mengangkat dirinya dan tetap menatap pada jiwa-jiwa itu.

Pria berbaju putih itu membekap mulutnya sehingga yang tampak hanya matanya, namun jelas terlihat dari sorot matanya binar-binar kegembiraan yang menghapus ketegangan yang bersarang lama diwajahnya tadi. Diangkatnya tinggi kaki yang di genggamnya dengan sebelah tangannya sementara sebelah tangannya menopang setelah menepuk-nepunya pelan, sosok kecil biru dan menjerit-jerit.

“selamat.. ia seorang lelaki, sehat dan kuat, tangisannya memecah lorong malam yang gelap dan membangunkan udara yang tertidur”

Lelaki itu tampak sumringah sekali , ia menatap kehidupan baru yang hadir dihadapannya dengan penuh rasa. Kemudian setelah dengan cekatan ia menimang dan mendekatkan bibirnya ke telinga sebelah kanan putranya yang mungil.. ia berbisik dengan pelan sekali pada putranya seolah agar tak ada yang mencurinya, karena bukankah pengakuan atas kebenaran itu suatu rahasia, dan lelaki itu membagi rahasia itu dengan putra semata wayangnya saat itu..

“… Allahu Akbar Allahu Akbar..
Allahu Akbar Allahu Akbar..
Asyhadu alla ilaha illallah..
Asyhadu alla ilaha illallah..
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah…
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah..
Hayya ‘alash sholah…
Hayya ‘alash sholah…
Hayya ‘alal falah….
Hayya ‘alal falah….
Allahu Akbar Allahu Akbar…
..La ilaha illallah…”

dalam hatinya teruntai syukur, harapan dan keinginan-keinginan untuk kehidupan baru yang ditimangnya saat itu.

kemudian ia mendekatkan pada wanitanya yang tergolek lemas, pucat namun di wajahnya terukir sebuah senyuman yang semua makhluk pun akan tahu arti kebahagiaan tertulis disana, sorot matanya yang sayu tampak sangat kuat saat itu. Dipeluknya dengan lembut sosok mungil itu.

“Tuhan, terimakasih.. segala puja dan puji hanya padamu Tuhan..”

Lelaki itu tersenyum, kebahagiaannya terasa lengkap dengan kehadiran seorang putra di keluarganya, ia mendekat pada istrinya dan mengecup lembut kening wanita itu. Dan berbisik, ” selamat ulang tahun ma, putra kita ini adalah kado dari Tuhan yang kan kita jaga dengan baik dan semoga ia akan menjadi anak yang berguna bagi siapapun yang membutuhkannya”

“amin.. terima kasih pa..”

************

Tepat hari ini, setelah 25 tahun aku bernafas, menatap hari dan melaluinya, aku selalu terbayang pada momen yang tak bisa kuingat itu. Aku tak pernah bisa melupakan hari ulang tahunku bukan karena aku mengingat hariku, namun mengingat pada hari ulang tahun seorang wanita yang tak kan tergantikan oleh apapun di dunia ini, satu-satunya wanita yang menyabung nyawa dan menatap tajam pada mata maut yang menghadangnya hanya untuk menghadirkanku di dunia ini.

Mom.. aku teramat sadar kalo selama ini belum bisa membuat sesuatu yang bisa kau banggakan, namun kau selalu saja berkata, bahwa kebahagiaanmu adalah melihatku bahagia..

Mom.. aku tahu bahwa meskipun aku menyabung nyawa untukmu, hal itu tak akan bisa membalas persabungan nyawamu menghadap maut hanya untuk menghadirkanku 25 tahun yang lalu..

Met ultah mom, engkau wanita yang menjadi cinta pertamaku di dunia ini..

00:23 – 05, nopember 2007

Sebuah renungan di pinggir sungai brantas.

-Irdix –

 

( red : Gabriel = Jibril , toh.. kita cuman beda kebiasaan lidah aja, jadi jangan berisik soal ini)

Advertisements

17 thoughts on “Met ultah cinta pertamaku..

  1. sepertinya, tiap tahun kamu bakal makin sayang sama ibumu, sekaligus juga bakal makin hormat kepada tiap perempuan. karena setiap perempuan adalah ibu…. 😀

  2. ternyata…orang seperti kamu masih ingat juga sama Ibu ya?

    *kabooor*

    aku terharu
    😥

    kenapa besarmu seperti ini Di…
    padahal Bapakmu dulu udah meng-azani kamu lho…

    *kabor menghilang*

  3. Pingback: What was happen on 4-5th nop 2007 ?? | Mous dan Kibor-nya Irdix

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s