Another Chapter (1)

Aku bukan berasal dari tempat yang sama dengan sekarang ini, di tempatku, getaran benda dan apapun yang memiliki pola yang kalian kenal dengan gelombang tidaklah ada, tidak ada suara. Kami tidak mengenal apa yang kalian sebut dengan lapar, haus, lelah, atau mengantuk.

Tempatku bukanlah surga atau nirwana, kami (aku sendiri dan beberapa lain yang persis sama denganku) hanya menunggu, yang entah menunggu apa itu, kami tak tahu. Tidak ada petunjuk, atau apapun. Disana tidak ada sedikitpun yang bisa kugambarkan, karena tidak ada satu apapun untuk digambarkan selain aku sendiri. Aku tak pernah mengenal siapapun (atau apapun itu kami), atau dia yang berada disebelahku, dibelakangku bahkan dia yang didekatku.

Tempatku menyenangkan, bukan seperti sebuah taman bermain tempat (yang kalian sebut anak-anak) untuk bermain. Yang aku ketahui, kami hanya disini untuk menunggu, namun kami tak pernah tahu akan menunggu apa.

Aku hanya tahu aku dipanggil, bukan dengan suara, namun dengan bahasa bukan terucap, bukan simbol, dan bukan pula suatu pola, aku cuma tahu bahwa aku dipanggil, dan entah oleh siapa.. atau apa. Aku bahkan tak tahu aku akan menuju kemana dan pada siapa.. atau apa.

Mendadak semuanya datang, tanpa aku bisa tahu… aku kehilangan diriku.. aku hilang dalam hiruk-pikuk yang melandaku tanpa peringatan apapun.

*****

Setelah berhasil lolos dari keramaian di pintu keluar-masuk parkiran mall ini, aku segera melangkah menuju ke lantai tiga mall ini. Aku menyingkap sedikit kain jaket di pergelangan tanganku, melihat jarum-jarum jam ditanganku, aku tahu aku terlambat dua puluh menit dari janji yang kami sepakati. Tapi jalanan sore ini cukup padat dan aku butuh waktu untuk menemukan tempat parkir untuk mobilku, aku berjalan sedikit tergesa.

Dia tampak mengaduk-aduk mie-nya dengan tanpa selera dalam piring dihadapannya, dia seolah menatap kosong keluar jendela, dagunya ditopang dengan tangan kirinya. Kafe itu sederhana, tidak terlalu mewah namun juga mengesankan sedikit suasana angkuh pada desain-nya. Diluar hujan, jendela kafe yang terletak d lantai 3 mall baru ini dibuat basah kuyup oleh langit sore ini. Aroma petrichor yang selalu muncul karena hujan membuat udara menjadi menyenangkan, kita biasa menyebutnya aroma tanah.

Aku tak buru-buru menghampirinya, bisa saja aku salah orang, toh aku baru mengenalnya di dunia maya saja, sampai akhirnya dia bersedia kopi darat denganku sore ini. Aku baru melihat fotonya saja, tapi aku hampir bisa memastikan jika dia memang orang yang menungguku. Dia duduk disana dan aku menyukai caranya duduk menunggu, anggun dan sepertinya penuh perenungan.

Hai.. , bisikku dalam hati.

Aku terkesiap, tanpa disangka-sangka dia menoleh dan menatapku lurus, dan tersenyum dengan singkat, sebuah senyum yang amat sangat sederhana. Dengan sedikit kikuk dan membalas senyumnya.

Aku menghampirinya dengan mataku yang tak lepas menatap matanya.

“luna ?”, sapaku.

“Hai..” sapanya ramah sambil menjabat tanganku dia seperti memamerkan senyumnya, tapi memang senyumnya layak untuk dipamerkan, sunggingan senyumnya begitu sempurna, hanya satu tarikan saja, aku mencoba menanggapinya sedingin mungkin, tapi dia membuatku lumer dalam senyumnya. Aku pun tersenyum membalas, tanpa sadar.

“silahkan duduk, ga bayar kok..” katanya sambil tersenyum.

Aku tersadar kalo aku cukup lama bengong menatapnya. Aku jadi semakin kikuk dan bodoh dalam gugupku, dia benar-benar membuatku lumer. Aku menyeret sebuah kursi dan duduk di depannya, aku melirik buku di sebelahnya, sekilas terbaca olehku “syech siti jenar”. Buku yang cukup menarik untuk seorang perempuan seperti dia.

“nih..”, katanya sambil menyodorkan buku itu padaku seperti bisa membaca pikiranku. Apa dia tahu kalo aku berpikir bahwa dia manis ?

Aku pun mengambil buku itu dan membaca beberapa paragraf saja.

“aku makan dulu yah, eh kamu ga makan mas ?” tanyanya.

“udah mbak, aku dah makan sebelum kesini” sahutku.

“minum yah ? “, dia melambaikan tangan ke seorang yang memakai setelah putih hitam, ada badge kafe ini di dadanya, tertulis “waiter”. Aku sama sekali tak sempat menolak, jadi aku membuka saja buku menu yang disodorkan padaku.

“ga ada STMJ yah disini.., atau kopi jahe..” kataku datar.

Luna tergelak, dan dia benar-benar tertawa lepas, aku melongo.

“maaf.. maaf.., mungkin kesukaan mas ga ada disini, jadi pesan seadanya ajalah” lanjutnya sambil menahan tawanya.

“lemon tea” kataku sambil mengembalikan buku menu ke tangan mas “waiter”, dia menanyakan apa hanya itu saja, dan aku menganggukkan kepala, dia segera pergi.

Kemudian aku pun diam, tanpa sadar aku menatapnya lekat-lekat, rasanya dia punya magnet yang selalu menarik mataku untuk melihatnya. Mungkin dia kutub Timur bumi, yang menarik mata untuk melihatnya. Seperti kompas yang selalu menunjuk utara.

“apa sih mas ? , ada upil di mukaku ? ” tanyanya lugas.

“hehehe.. ga kok, cuma kamu manis” jawabku cengengesan.

“basbang mas, kalo itu aku sendiri udah tau”, katanya sambil hanya sedikit saja melirik padaku. Aku sadar jika kata-kataku mungkin memang sangat biasa untuk kamu dengar dari banyak laki-laki yang pernah kamu kenal, dan aku tak ingin menjadi biasa untukmu.

Lemon tea-ku datang, mbak yang bernama “waitress” mengantarkannya. Aku pun menikmatinya sejenak, sekedar untuk membasahi tenggorokanku yang kering. Aku menatap keluar jendela, hari mulai gelap, matahari terbenam. Istilah yang aneh untuk menyatakannya, padahal matahari tidak pernah benar-benar tenggelam, hanya bumi yang merubah sisinya untuk menghangatkan sisi lain dirinya. Aku membayangkan bumi sepertiku yang merubah posisi saat tidur karena pegal, menggeliat.

“kok ga dihabiskan ?” tanyaku saat melihatnya menangkupkan sendok dan garpunya. Mie dipiringnya masih tersisa beberapa, mungkin 3-4 sendok aja. Kalau di Warung Amigos yang istilah kerennya Agak MInggir GOt Sedikit, mungkin aku sudah meminta piringnya untuk menghabiskannya, namun di kafe yang terkesan sedikit angkuh ini, aku tidak bisa memenuhi keinginanku, aku juga harus jadi angkuh. Betapa suasana bisa membuat seseorang bisa menjadi tidak dirinya sendiri.

“udah kenyang mas”, ucapnya tanpa melihatku setelah menandaskan makanan yang ada di dalam mulut mungilnya itu. Kemudian setelah aku berusaha mengalihkan pandanganku darinya aku memilih menatap matahari yang mulai tenggelam di perbatasan bumi dan langit.

“gimana menurutmu mas?” tanyanya.

“hah? , tentang apa?”, aku sedikit terkejut memang, aku sedang menatap matahari yang ada diluar sana.

“tentang syekh siti jenar itu tentunya”, katanya sambil menunjuk buku yang sudah aku letakkan kembali di meja.

“aku ga tau”, kataku, sambil merogoh saku jaketku dan mengeluarkan satu pak rokok filter kegemaranku.

“kamu keberatan ?”, sambil mengacungkan sebatang rokok yang terjepit diantara jari telunjuk dan jari tengahku.

Dia menggeleng kecil dan tersenyum, “silahkan saja, aku sudah lama berhenti”

“Aku tak tertarik untuk selalu meng-amini apa kata buku..” , sambungku sambil mencari-cari korek disaku jaketku, dan akhirnya aku menemukannya di saku celanaku.

Dengan segera satu batang silinder kertas berdiameter sekitar sepuluh milimeter itu kubakar ujungnya, aku hisap dan aku hembuskan ke atas, ke arah exhaust kafe ini, aku merasakan kelegaan dan kepuasan dalam diriku. Aku sudah sejak lama memang mencandu rokok.

Aku pernah membaca bahwa manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, mereka melakukannya untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam. Pikiran itu menyelinap kembali dan bercakap padaku saat aku memelintir dan memutar-mutar sebatang rokok yang menyala dengan jari-jariku.

“oh iya, kamu dulu merokok ?”, tanyaku dengan sedikit takjub.

“yap”

“sekarang sudah engga merokok lagi ?”

“paru-paru..”, katanya sambil tersenyum sederhana.

“ooh..”, jawabku manggut-manggut maklum.

“mas tahu ga kenapa rokok itu enak ?”, tanyanya ringan.

“hmm.. rokok bisa membuatku rileks”, kataku sekenanya.

“kenapa ga coba insektisida saja sekalian ?” katanya sambil tersenyum, entah mengejek atau memang bercanda.

“kamu sendiri dulu kenapa engga minum insektisida saja ?”, balasku, dan aku berpikir jika aku bersikap menyanjung dan berkelit seperti halnya yang aku perlakukan pada teman-teman perempuan cantik lainnya, maka aku akan terlihat sangat biasa untuknya, mungkin bahkan tak diingatnya, aku tak ingin itu.

“Sebenarnya sumber kenikmatan sebatang rokok adalah alkaloid nikotin yang bercokol pada lembaran daun tembakau, dan sering kali zat ini juga dijadikan bahan racun serangga atau insektisida”, lanjutku sambil tersenyum padanya.

“Jadi memang benar seperti di iklan-iklan bahwa selama ini kita berusaha membunuh diri kita sendiri??”, Dia tergelak dan tertawa dengan renyah sekali lagi, kali ini mau tak mau aku juga ikut geli dan tertawa.

“yah, mungkin semua manusia memang secara ga sadar ga pernah menyayangi dirinya sendiri atau manusia memang benar-benar menikmati dunia”, ringkasku.

“Masa sih? maksudnya menikmati itu gimana?”, katanya sambil mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, mungkin dia memeriksa pesan masuk, karena tampaknya dia hanya memencetnya tiga kali, dua kali yang aku yakin untuk membuka keylock-nya dan satu kali untuk membuka sms, tapi aku bisa saja salah.

“yap”, sahutku yakin sambil melihat keluar dari jendela disampingku. Kafe ini berada di tempat yang lebih tinggi dari jalan raya diseberang sana.

“Mungkin tanpa pernah disadari manusia benar-benar ingin menikmati apapun yang ada di dunia ini, meski itu dengan mengorbankan dirinya sendiri, ambisi seperti itu yang membuat banyak dari kita terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan”, sahutku sambil menerawang jauh melihat ke arah jalan raya yang petang ini nampak sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan, mobil antri dan kadang menyerobot, sepeda motor berlalu menelikung ke celah-celah yang tak dimanfaatkan pengendara lainnya. Aku rasa memang kita terkadang menghalalkan segala cara dengan kemampuan kita untuk mencapai tujuan.

“Apakah itu salah?”, tanyanya membuyarkan lamunan singkatku. Suaranya selalu menarik perhatianku, tidak terlalu merdu, tidak terlalu lembut, tidak terlalu tegas dan tidak terlalu lembek, hanya pas terdengar.

Aku hanya tersenyum padanya, tak menjawab.

“kenapa?” tanyanya lagi.

“Enggak, aku hanya kadang berfikir kalau kita mempersalahkan pada apa yang kita lakukan dan membenarkan apa yang kita lakukan, kita hanya akan berjalan seperti arus air, mengikuti kanal-kanal sungai, meresap ke tanah dan kembali muncul seperti mata air, sebuah siklus”, kataku.

“Aku pikir malah lain, sebaiknya kita hidup memang seperti itu, mengikuti apa yang ada meski dalam diri kita mengerti dan menginginkan terdapat keajaiban yang akan membuat air terjun mengalir ke arah sebaliknya”.

“Ya.. aku juga menyadari itu”

“Seperti ikan-ikan salmon?”

“Haha.. ikan salmon memang hanya bertelur dan berenang kembali menentang arus, untuk yang selamat mereka akan mencapai tujuan, yang tak selamat mungkin akan ditangkap beruang dan dijadikan santapan, mereka berenang dengan kanal mereka sendiri”

“bukankah kita semua seperti itu?”

“ya, kamu benar”

“Apa yang kamu cari dalam hidup ini mas??”

“tahu.., aku mencari tahu, kalau kamu?”

“kenikmatan dan kesenangan”

Aku tergelak menertawakan diriku sendiri, aku sering bertemu dengan orang-orang yang realistis dalam hidup, namun baru kali ini aku bertemu dengan seorang yang mau dan bisa memahami pikiran-pikiranku yang terkadang aku rasa juga tidak realistis sama sekali. Dia tersenyum.. menang, dan aku jatuh cinta.

*bersambung*

Advertisements

10 thoughts on “Another Chapter (1)

  1. @besar
    mahal ko.. sekarang harga minyak naik, ga tau.. katanya sih minyak mulai naik mobil pribadi makanya ongkosnya mahal..

    @Ai
    lho..lho.. gimana ga bingung.. cuma karena nama jalannya lucu kamu ikutin trus jadi kesasar… cape deeeh..

    @may a.k.a ordinary
    ehhehhe..
    trimakasih.. as I expected. This one is quite boring.. I’ll try harder to statisfied myself next time.

    HUHA..!! *teriakan semangat ala irdix*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s