Klenengan Malam

PLAKK……!!!

Nyamuk-nyamuk mulai mengganas di teras tempat aku menikmati malam ini.. tampaknya gelap hari ini kurang begitu bersahabat denganku, aku mengamit pack rokok mild yang sedari siang tadi aku kurangi satu persatu isinya, aku periksa karena mataku mulai terasa berat, seperti digantungi botol Jack Daniels yang isinya aku tenggak sampai hampir habis.. aku menyisakannya sedikit untuk esok pagi, pack rokok-ku kosong. Aku merogoh saku celana jeans-ku dan mengeluarkan pack baru, aku mencari-cari pita segelnya, menjewernya dan menariknya memutar satu putaran untuk merobek segel pack rokok itu. Aku mengeluarkan sebatang dari sana dan membakarnya… lalu melempar kan batang korek yang sudah kumatikan ke dalam asbak disampingku.

Dalam jepitan telunjuk dan tengah jariku, kepulan dan bius rokok ini mengingatkanku akan dirimu, kamu seperti nikotin yang ditagih oleh tubuhku, jiwaku merindukan hadirmu disini sekarang. Kadang cinta memang bermakna lain jika kita tenggelam bersamanya.. mengikuti keinginan-keinginan yang muncul bersamanya, dan ya aku takut kehilanganmu.. karena seperti sel abu-abu dalam otakku yang menagih nikotin untuk menenangkan gelisahnya, aku membutuhkanmu.. sekarang. Aku mengakuinya dalam keinginanku, aku kecanduan akan dirimu. Aku menatap kepulan asap yang terbentuk dari batang rokok yang terbakar dalam jepitan jari-jariku, asap itu perlahan menghilang bersama udara malam ini.. Aku mengangkat gelas di meja, es batu membentur dinding gelas dan menimbulkan suara dentingan yang terbekap cairan, larutan alkohol..

Setelah beberapa tetes menyelinap melewati bibir, membasahi rongga mulut dan meluncur dengan gerakan naik jakunku, aku segera menghisap dalam-dalam rokokku, beberapa kali aku mengulang-ulang hal yang sama tanpa berfikir dan tanpa sempat menyadari datangnya pikiran, sampai satu batang rokok dalam jepitan jari-jariku mulai mendekati filter gabus yang memecah asap bakarannya agar terasa lebih halus saat dihisap.. aku mematikan rokok itu, menggilas baranya dengan tubuhnya sendiri.. aku menarik sebatang lagi dari dalam pack-nya..

“cress..” batang korekku menyala, gairahku terbakar. Aku membakar sebatang rokok-ku dan menghirup wanginya dalam-dalam, sebuah kepuasan pemenuhan ego-ku menyusup dalam tubuhku, mendesak ke dalam alveola-alveola paruku dan mennyuntikkannya ke dalam setiap sel darahku bersama dengan larutan alkohol yang membuat tubuhku terasa sedikit berat untuk kuajak beranjak. Kedatanganmu seperti nikotin yang membius sel abu-abuku, menenangkan dengan lembut, aku ingin meracuni diriku semakin dalam, meracun diriku dengan dirimu. Serotonin yang menghanyut dalam ketenanganku semakin membuatku jauh dalam renunganku akan dirimu.

“ssstthhaaaa..” kuhembuskan sekumpul asap dengan penat.

Dalam anganku kamu tersenyum, menunjuk dengan ceria dengan kata-kata  yang tak terucapkan, namun aq mengerti ucapanmu yang tanpa suara dan aku mengikutinya. Aku terdiam dan merasa perih, kamu bercakap dalam genggamanmu, aku hanya terdiam mendengar kata-katamu yang penuh kebahagiaan, dalam benakku kamu bisa dengan gembira bercerita tentangku, tanpa ragu lagi.

“ssstthhaaaa..” kuhembuskan sekumpul asap dengan penuh kesal.

Aku mengambil gelasku yang sudah terisi lagi dengan larutan yang komposisi mayoritasnya alkohol, aku menenggaknya lagi pelan-pelan.. merasakan setiap pahit-manis-panas meluncur dari ujung bibir sampai ke lambungku, aku merasakan setiap sel-sel dalam tubuhku meminta keadilan darah untuk segera memberi mereka bagian dari minuman itu, hampir seluruh sel kepalaku telah meneguknya pula, aku tahu sel-sel dalam tubuhku mabuk dan mereka membuatku merasakannya juga, komposisi dalam diriku terasa dengan jelas.. aku mencicip rasa surga yang sungai-sungainya mengalirkan khamar dalam berbagai rasa, aku ingin sekali mencicip rasa kebahagiaan, karena rasa itu tak dijual dimana-mana di bumi ini, kalan ada dan dijual, entah berapa rupiah yang harus kusediakan untuk membelinya.. mungkin Tuhan menjualnya, harganya setumpuk koin pahala per pitcher. Wanitanya dijual seharga 10 koin besar pahala, mungkin karena itu banyak orang menabung pahala, agar mereka bisa kaya raya di surga nantinya.

“sssssttthhhaaaaaa…..”, aku mendiamkan pikiranku sejenak dan menikmati momen melayang tanpa sayap ini.

Aku merasa udara yang ada disekitarku membisik, mereka tak bersuara seperti halnya kita berbicara dengan pita suara yang ditegangkan dan digetarkan udara untuk membentuk bunyi-bunyi, udara berbicara dengan menggerakkan pita-pita kehidupan disekitarku, menggesek daun-daun, menggesek tembok-tembok malam dan menggesek dirinya sendiri, hebatnya.. udara bisa berbicara tanpa alat bantu membawa suara dari sudut-sudut gelap dan terang setiap kehidupan yang ada. Aku mendengar suaraku sendiri dalam udara, suara dari masa lalu yang berkelana
pelan dalam pikiranku, aku terkagum diam karena
udara bisa mengeluarkan pikir terdalamku, aku mendengarnya berbisik dan menyuarakan nama, aku mengulangnya pelan..

“luna..”, otot pipi di mukaku menarik pelan kedua ujung bibirku dan membentuk rona baru.

Advertisements

9 thoughts on “Klenengan Malam

  1. @besar

    hehehehe… *mringis ngeri*

    @tukangbengong

    harap maklum.. kepikiran minuman memabukkan sama bidadarinya.. jadi khamr + kamar ga sengaja kegandeng..

    bwakakaka.. !!

  2. Ya ampyuuuunnn,….

    Rokok dengan kombinasi khayalan tentang kekasih bener-bener pasangan ketergantungan nyang memabukkan…

    sungguh sayah keliru dalam mengira pribadimu… 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s